Selasa, 02 Juni 2009
Setelah kita dewasa, dia menangis pilu melihat tingkah kita. Sedih dan gundah menyaksikan perlakuan kita padanya. Walaupun hati sakit, tapi dia tetap tegar dan selalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk kita. Setiap malam dia terbangun, meneteskan air mata kesedihan dan memohon pada Tuhan, “ Ya Allah, ampunilah dosa anakku, lindungilah dia setiap pijakan di bumi ini, jauhkanlah dia dari setiap perbuatan yang Engkau murkai. Amin…” Rutinitas yang dia lakukan tanpa lelah.
Setiap pagi dia selalu menyiapkan kebutuhan kita. Bangun terlampau pagi ketika orang-orang terlelap. Bekerja penuh keikhlasan hanya untuk membuat kita bahagia. Ketika dia meminta bantuan pada kita, karena usianya tlah renta dan keriput halus diwajah mulai tampak, apakah jawaban kita, “Ah..nanti dulu, lagi asyik nih nonton TV, ah..males ah.., lagi sibuk nih!” Tapi dia tak keberatan dan dengan sangat hati-hati dia kerjakan semuanya.
Suatu hari, dia terbaring lemah tak berdaya, mulutnya serasa memanjatkan doa, air matanya membasahi pelupuk mata, dan memandang samar-samar sekeliling. Saat itu dia merasa kesepian, merasa diacuhkan, merasa dicampakan. Buah hatinya menghilang dari gengamannya. Hanya satu keinginannya, ketika usianya menapak jauh, tua renta terkulai lemas, hanya ingin satu saja.. buah hatinya menemaninya, menepis sepi yang menyelimuti. Hingga hari itu datang, dia tak kuasa menahan rasa sakit dalam tubuhnya, seberkas cahaya merenggut jiwa dan raga ini melepaskan dengan ikhlas, serta mata terkatup untuk selama-lamanya.
“ Bunda… “,jerit kita menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan dan menyayat hati. Terlambat! Dia sudah jauh meninggalkan dunia, terbang menjauhi cakrawala, hilang dari pandangan. Hanya isak tangis yang terdengar. Penyesalan tiada guna.
Manakah kasih sayang kita padanya? Manakah rasa terima kasih kita padanya? Walaupun dia tak meminta itu semua dari kita, walaupun harta kita di dunia tak dapat menggantikannya, sempatkanlah waktumu untuk menemaninya. Dengan meluangkan waktu kita bersama bunda kita tercinta, dia sudah sangat bahagia. Dia sangat bahagia melihat kita tumbuh besar, berbakti pada orang tua, dan menjadi anak yang sholeh.
Teman-temanku, bunda kita, ibu kita, mama kita, emak kita hanya satu di dunia ini, janganlah kalian sia-siakan dia, jangan sampai kita terlambat untuk mengakui hanya dia dihati kita setelah Tuhan, jika hal itu terjadi hanya tangisan penyesalan yang menyelimuti. Sekarang, berlarilah dalam pelukan bunda, dan ucapkan, “Aku sayang bunda, terima kasih atas semua kasih sayang dan pengorbanan bunda selama ini.” Minta maaflah atas semua kesalahanmu selama ini, entah itu kita bandel, keras kepala jika bunda kita menasehati, menganggap remeh bunda, dan semua macam kesalahan kita.
(Aku menangis ketika menulis semua kata-kata yang tertuang dalam tulisan ini. Karena aku sangat rindu, mamaku yang jauh di sana. Rindu akan kasih sayangnya, rindu akan nasehatnya, rindu akan belaiannya…)
Dalam sepanjang perjalanan hidupmu
Selaksa harapan seribu doa
Mengayuh mimpi indah bersama
Tuk mengarungi separuh pengorbanan
Pengorbananmu begitu berarti
Menyongsong hari demi hari
Yang dilalui bersama kami
Dalam kebahagiaan yang terpatri
Kebahagiaanmu adalah harapanku
Kehangatan cintamu adalah selimutku
Bagai penopang dalam kehidupanku
Melindungi dalam kejaran waktu
Selamat Ulang Tahun, Bunda
Kutau cintamu sedalam lautan
Pengorbananmu pun tak pernah pudar
Dalam limpahan rahmat dan ridho-Nya
Duhai Bunda ..
Maafkan segala kesalahanku
Jerih payahmu tak tertandingi
Membuat ku selalu ingin seperti Bunda
Duhai Bunda..
Doaku selalu menyertaimu
Terima kasih atas segala panduanmu
Hidupku begitu berarti karenamu
Semoga Allah SWT selalu melindungimu
Dan segala impianmu terwujud atas kehendak-Nya
Kasih sayangku untukmu selalu
Walau tak terlukiskan, namun selalu tercipta untukmu
Selamat Ulang Tahun, Bunda.
Beberapa Puisi untuk Bunda..
= Untuk Bunda tercinta =
Teruntuk kasih hatiku yang slalu kurindu
Kuingin menghiasi mimpi bersamamu
Melepaskan segala keresahan dalam jiwa
Dalam bimbingan dan belaian bunda tercinta
Kala menatap wajahmu nan lembut
Kuingin kau tau selalu dihati
Ingin kurengkuh semua harapan
Disetiap desah nafas panjangmu
Dalam tidur menggapai mimpi
Kulihat kau tersenyum penuh kedamaian
Menyisakan gelora dihati
Tuk selalu membuatmu bahagia
Wahai bunda tercintaku
Yang selalu menemani dalam malamku
Setiap alunan doa yang kau panjatkan
Kutau kau tujukan untukku
Setiap derai tangismu
Kutau kau mengkhawatirkanku
Dalam dekapan kuingin berbagi
Dalam tatapan kuingin menghargai
Dalam setiap doa kuingin berharap
Dalam kebahagiaan kuingin kau menyertaiku
BUNDA
Ceritakan padaku Bunda…!
Kalimat yang senantiasa tercipta
Merajuk merayu mengharapkan kehangatan
Dalam permintaan seorang anak kecil
Tubuh mungil nan menawan
Sepasang mata yang berkilauan
Menggelayut mesra dalam pangkuan
Seolah menyapa dalam senyuman
Seperti itukah masa kecilku, Bunda?
Dalam dekapanmu sepanjang malam
Dalam kehangatan pelukanmu setiap saat
Menantikan dongengmu di dalam tidur
Saat inipun.. masih kurasakan hangatmu
Masih terpancar pengorbanan yang tiada henti
Sanggupkah aku seperti Bunda?
Melayani peri kecil kehidupanku kelak
Sabtu, 30 Mei 2009
AKU MAKIN CINTA PADAMU BUNDA
Menangis diriku Bunda ketika membaca sebuah puisi:
Bila Ibu Boleh Memilih
(Surat Sayang Dari Ibu)
Bila ibu boleh memilih, apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu. Maka ibu akan memilih mengandungmu. Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah,
Sembilan bulan nak…
Engkau hidup diperut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasakan tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi Caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu. Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu. Karena menunggu dari jam ke jam , menit ke menit kelahiranmu adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga. Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan keluar ke dunia sangat ibu rasakan, dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, yang tak pernah ibu ceritakan kepada siapapun. Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia, saat itulah …saat paling membahagiakan. Segala rasa sakit dan derita sirna setelah melihat dirimu yang merah. Mendengarkan ayahmu mengumandangkan azan, kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita rasulullah di telinga mungilmu
Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, maka ibu memilih menyusuimu, karena dengan menyusuimu, ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan-tegukan yang sangat berharga. Marasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu, adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama diruang rapat atau duduk dilantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan… Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan
Merana, maka maafkanlah nak …maafkan ibu…
Maafkan ibu…percayalah nak, ibu sedang meyempurnakan puzzle kehidupan kita, agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang. Percayalah nak… Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu, percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
Tuk Ibunda
Bunda aku makin cinta padamu. Mengapa tidak? Setiap minggu selalu terpapar dengan real-nya pengorbanan seorang Bunda pada anaknya. Melahirkan mansia, bukanlah pekerjaan yang mudah,,, Subhanallah semua mekanisme tubuh bekerjasama agar proses tersebut dapat berlangsung dengan baik. Bunda terima kasih telah mengandungku dengan jerih payah, melahirkan aku dengan segala keikhlasan yang engkau miliki. Aku berjanji akan menjadi manusia yang berkualitas, patuh pada orang tua, Taat pada Allah dan Rasul-Nya dan nantinya do’akan aku bisa mencetak generasi yang berkualitas pula Amiinn...seperti yang kau mau.
Itulah ungkapan yang terbersit di hatiku ketika kuliah KMB/ Keperawatan Medikal Bedah dengan topik Persalinan Normal. Apa saja sich yang terjadi pada Bunda kita ketika ia mengandung kita?
Selama kehamilannya tubuh Bunda kita beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Baik itu berupa adaptasi anatomis, fisiologis, biokimia maupun secara psikologis. Bila adaptasinya memburuk maka itu akan menjadi faktor penyulit bagi Ibu.
Perubahan-perubahan tersebut diantaranya:
Udem. Prubahan yang sangat signifikan terlihat adalah pertambahan berat bada sang Ibu, disebabkan janin yang dikandungnya, pembesaran rahim/ uterus, peningkatan volume darah dan cairan elektrolit. Makanya ketika seorang ibu hamil sering terjadi pembengkakan di tungkai ataupun area lainnya yang dalam bahasa medis kita sebut dengan udem(penumpukan cairan) atau dalam bahasa minang disebut sambok. Bayangkan ketidaknyamanan ibu ketika hamil dari satu gejala itu saja.
Ketika hamil denyut jantung sang buda meningkat dari biasanya sekitar 10-15 kali per menit. Hal tersebut terkait peningkatan volume darah, kecemasan psikis dan tingkat aktifitas seorang ibu RT. Subhanallah,,,,, perjuanganmu,,,,,,
Anemia. Mengapa setiap ibu hamil anemia? Karena volume darahnya meningkat sedangkan Hb-nya tidak. Sehingga kadar Hb dalam darah seolah-olah menurun dan jika dibiarkan akan berdampak buruk pada ibu dan janin yang dikandungnya.
Mimisan, gangguan pendengaran dan gangguan pernafasan sampai sesak nafas. Mimisan, gangguan pendengaran dipengaruhi oleh peningkatan hormon estrogen sedangkan gangguan pernafasan disebabkan tekanan dari perut sang ibu pada rongga dada. Sehingga ibu hanya bisa melakukan pernafasan dada untuk menggantikan pernafasan perut.
Sangat berisiko terjadi ISK/ Infeksi Salurab Kemih. Why? Kandung kemih yang tertekan oleh perkembangan rahim mengakibatkan kapasitasnya seolah berkurang sehingga ambang batas menurun. Oleh itu, ibu sering BAK ketika hamil. Oh,,, bunda betapa tidak nyamannya engkau,,, tapi Insyaallah perjuanganmu membuahkan hasil,,,,,
Dari sistem persarafan terjadi perubahan sensori pada kaki Ibu, nyeri menjalar di tangan, mati rasa di tangan atau sebaliknya terlalu sensitif sehingga geli, migren, kram otot dsb. Aku tambah sayang padamu Bunda,,,,,,
Pada sistem pencernaan bunda akan mengalami konstipasi. Karena pengaruh hormon maka penyerapan makanan di usus berlangsung lambat sehingga penyerapan air meningkat so konstipasi dech,,, sehari saja konstipasi menyamperi kita pusingnya bukan kepalang,,,,
Dari segi psikologis pada awal kehamilan sangibu akan sangat sensitif, jangan heran kalo Ibu/ istrinya suka marah dan meledak-ledak. Di pertengahan kehamilan akan mulai terasa capai, malas dan sering melamun. Sedangkan di akhir kehamilan keinginan Ibu melihat bayinya sebanding dengan ketakutan melahirkan/ terkaitan keselamatan saat melahirkan.
Itulah sedikit gambaran betapa susahnya perjuangan seorang ibu mengandung kita,,,,, Subhanallah,,,,, sungguh besar Kuasa-Mu Yaa Allah,,,,,
Kamis, 14 Mei 2009
"Surga di bawah telapak kaki ibu"
Sebutan ibu sangat mulia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kubi) ibu diartikan wanita yang telah melahirkan seseorang, anak yang harus menyayangi. Ibu panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum. Ibu diartikan bagian yang pokok (besar, asal dan sebagainya). Ibu diartikan juga yang utama, yang terpenting.
Siapapun mengakui ibu itu punya peranan yang sangat besar, mulia dan tidak dapat dinilai besarnya dalam segala hal. Wajar saja pada 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.
Ibu adalah wanita, tetapi seorang wanita belum tentu menjadi seorang ibu, apa lagi menjadi ibu yang sebenarnya. Artinya ibu yang baik. Peran ibu sangat multidimensi dalam kehidupan manusia. Tidak heran dalam ajaran agama, misalnya Islam ibu ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Bila ditanya siapa yang paling dihormati di dunia ini adalah ibu, ibu dan ibu baru ayah. Lantas dikatakan surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.
Makna yang dikandungnya sangat luas, seluas lautan. Misalnya surga itu di bawah kaki ibu. Artinya ibu yang baik akan membawa manusia di dunia ini mendapatkan surga. Langkah, perbuatan, tingkah laku, kepribadian dari seorang ibu menentukan warna dunia ini, hitam, putih atau abu-abu.Lebih rinci lagi dikatakan bila satu negeri para wanitanya, ibu-ibunya baik maka baiklah negeri itu tetapi sebaliknya bila tidak maka hancurlah negeri itu. Luar biasa peran ibu. Berhubung dengan Hari Ibu, penulis hanya ingin menuliskan secuil tentang ibu yakni anggapan ibu yang sukses itu bila berperan sebagai wanita karir. Benar!
Penentu Keberhasilan
Benar! Setiap ibu pasti wanita karir. Namun karir yang dimaksud bukan ibu yang berhasil diluar kodratnya sebagai seorang ibu. Anggapan sinis terhadap wanita yang dalam hidupnya hanya dari kasur, sumur dan dapur dinilai tidak wanita karir hal ini salah. Anggapan, penilaian yang tidak benar.
Ibu sebagaimana yang diartikan dalam Kubi, bahwa ibu diartikan bagian yang pokok, besar, asal, yang utama, yang terpenting dan sebagainya bermakna multidimensi. Tidak dapat diartikan bila kegiatan seorang ibu hanya menjadi ibu rumahtangga saja maka bukan wanita karir. Selalu wanita ragu-ragu bila ditanya apa pekerjaannya untuk menyebutkan sebagai ibu rumahtangga.
Beda dengan menyebutkan yang bukan ibu rumahtangga. Lebih cepat, lebih lancar bila wanita itu menjabat sebagai Direktur Bank misalnya, sekretaris atau pengusaha dan sebagainya. Pemikiran wanita karir itu adalah wanita yang bekerja diluar aktivitas rumahtangga perlu diubah. Jelas yang diartikan dalam kamus besar bahasa Indonesia. Ibu artinya bagian yang pokok, mendasar, utama, penting sehingga kedudukannya dalam kehidupan manusia sangat penting dan mulia.
Ibu adalah penentu keberhasilan semua aktivitas manusia di bumi ini. Dari ibu yang sehat melahirkan anak yang sehat. Dari ibu yang pintar, cerdas melahirkan anak yang pintar, cerdas. Ibu adalah bagian pokok dari segalanya. Lantas, ibu itu adalah penentu semua karir anak manusia yang ada di bumi ini.
Bila ini telah dipahami maka setiap ibu pasti wanita karir. Dimana karirnya? Karirnya melahirkan, membesarkan, mendidik manusia berkualitas. Bila setiap individu, rumahtangga keluarga Indonesia melahirkan anak-anak yang cerdas, berpendidikan, bermoral, berakhlak mulia, jujur, amanah dan dapat dipercaya maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.
Tidak salah bila wanita-wanita atau ibu-ibu dalam satu negeri baik, maka akan baiklah negeri itu tetapi sebaliknya bila tidak maka hancurlah negeri itu. Tidak salah lagi, surga itu di bawah kaki ibu. Artinya ibu adalah penentu mau kemana dibawa manusia di bumi ini. Bila langkah-langkah kaki para ibu itu berjalan baik, lurus di jalan yang benar maka akan baiklah manusia di negeri itu atau di dunia ini.
Kembali Kepangkuan
Siapapun manusia di dunia ini, rindu ingin kembali kepangkuan ibundanya. Di sana ada kedamaian, kasih sayang, di sana ada surga yang indah. Seharusnya pula para wanita, ibu-ibu di Indonesia kembali kepangkuan ibu pertiwi. Artinya kembali kepada titah, kodrat wanita yang sesungguhnya, berkarir mulia untuk melahirkan, membesarkan, mengasuh, mendidik putra-putri terbaik bangsa.
Negara, negeri ini membutuhkan wanita, ibu-ibu yang memiliki karir mulia melahirkan putra-putri terbaik bangsa sebab sudah lama negeri ini tidak memiliki putra-putri terbaik bangsa yang cerdas, pintar, bijaksana dan jujur. Boleh jadi kaum ibu sudah perlu kembali mengasah diri untuk melahirkan putra-putri terbaik bangsa. Berkarir mulia.
Negara, negeri ini pasti jaya, sejahtera rakyatnya bila kaum ibu berhasil, mampu melahirkan putra-putri terbaik bangsa. Tidak perlu wanita atau kaum ibu minta jatah 30 persen duduk di legislatif, sekian persen duduk di eksekutif (pemerintahan), ramai-ramai sebagai pimpinan pada berbagai instansi pemerintah, swasta. Tidak begitu perlu karena peran kaum ibu seperti peran seorang sutradara.
Film berkualitas dihasilkan dari sutradara berkualitas. Sang sutradara tidak perlu terlibat berperan, berlakon dalam film. Sutradara harus mampu melahirkan aktor-aktor, aktris-aktris dengan acting bagus, mampu memerankan peran yang baik sesuai dengan arahan sutradara. Begitu juga dengan kaum ibu, jadilah sutradara handal.
Memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara letaknya pada kaum ibu. Ingat! Surga itu di bawah telapak kaki ibu. Jadi karir utama kaum ibu melahirkan putra-putri terbaik bangsa. Setiap ibu adalah wanita karir untuk melahirkan putra-putri terbaik bangsa.***
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya.. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kimpoi lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkimpoian mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan airmata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.
Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya?
Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging.. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.
Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat…
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu???.
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu
“Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri.“Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.
Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya. Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.
Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu?.”Maafkan saya, Nak.” “Tidak Bu, saya yang bersalah”???..
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten.. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.
Keuangan sang ibu sudah agak membaik, ibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.
Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Di antara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup, anaknya tercinta..
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga??..
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis “Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana.. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling-guling jatuh ke bawah????..
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.
Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”
Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi???Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila?.
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela engorbankan nyawanya.
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang-orang di sekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?
Tidak diragukan lagi.





